Theosera Eulifatic Aufchwitz



Hidup itu tentang cinta. Tapi cinta bukan selalu tentang pacar. Cinta dapat dikaitkan dengan kata apapun. Bahkan dengan 58 jenis jiwa sekalipun yang berbeda. Cinta bukan hanya tentang kasih sayang, namun juga pengorbanan. 58 jiwa ini telah mengorbankan kehidupan remajanya direnggut oleh sebuah bangunan kecil yang berada di luasnya tanah. Ya, bangunan itu MAN Insan Cendekia Paser namanya. 58 jiwa ini perlahan berkurang menjadi 53. Bukan kalah, tapi ada beberapa alasan yang menjadikannya untuk pergi. Menjadi angkatan pertama tidaklah mudah. Apa jadinya sebuah sekolah tanpa angkatan pertama? Oleh karena itu, angkatan pertama akan menjadi awal dari segalanya. 

Kami berasal dari daerah yang berbeda. Mengingat sebuah kalimat terpampang nyata pada seekor burung Garuda "Bhineka Tunggal Ika" yang berarti "Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu" membuat jiwa-jiwa ini merasa tak ada jarak antara mereka, tak ada pembeda diantara mereka. Hidup dengan damai dalam satu atap, berbeda lantai. Kami tak pernah akur, egois sangat. Berbagai macam masalah menghampiri kami. Konflik pun mulai tersebar ke seluruh penjuru asrama. Mulai dari rebutan seorang cowok, ataupun sebaliknya, gosip yang tidak benar, bahkan menyebar aib saudara atapnya sendiri. 

Ya, itulah TEA, angkatan pertama dari MAN Insan Cendekia Paser. Dulu memang begitu. Namun, semenjak terlahirnya 96 adik baru, itu semua menghilang. Sifat buruk mulai berkurang. Tak ada lagi masalah seperti itu, bahkan jikaupun ada, kami akan membasminya bersama. Kami akan berusaha untuk tetap menjalin keharmonisan, walaupun kini tak lagi satu atap. 

Kami adalah keluarga. Keluarga yang terdiri dari berbagai macam tokoh dengan karakternya masing-masing. Semua yang telah diukir akan tersimpan dalam ingatan-ingatan indah. SELAMAT BERJUANG, TEMAN! SUKSES BUAT TEA! GO! FIGHT! WIN!

-Theosera Eulifatic Aufchwitz-



Komentar